Loading

Kamis, 15 Januari 2009

Tausiyah


Tausiyah Desember 08:

Dari Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu berkata, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan kalian membeli suatu barang yang (akan) dibeli orang. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, tidak layak untuk saling menzhalimi, berbohong kepadanya dan acuh kepadanya. Taqwa itu ada disini (beliau sambil menunjuk dadanya 3 kali). Cukuplah seseorang dikatakan jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Haram bagi seorang muslim dari muslim yang lainnya, darahnya, hartanya, dan harga dirinya” (HR. Muslim)
Haram seseorang merendahkan saudaranya. Yaitu dia berkeyakinan bahwa saudaranya lebih rendah dari dirinya karena keturunannya, daerahnya, pekerjaannya,dan sebab-sebab lain. Merendahkan saudaranya bertentangan dengan kewajiban untuk memuliakannya. Karena bagaimanapun keadaan seorang muslim ada pada dirinya keimanan, ketauhidan, dan lain-lain dari ketaatan yang wajib untuk dimuliakan.

Tausiyah November 08:

“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. "( QS.Yunus:22-23)


Tausiyah Oktober 08:

Pemimpin sejati tidaklah dihitung berapa banyak jumlah pengikutnya
tetapi pemimpin sejati dihitung dari berapa banyak orang yang sudah
dibebaskan dari belenggu kejumudannya. Itulah sebabnya dalam sejarah
peradaban umat manusia selalu mencatat nama orang-orang yang
berpenampilan sederhana namun melakukan tindakan-tindakan kecil yang
memiliki pengaruh besar bagi orang lain yaitu dengan membebaskan
manusia dari segala bentuk perbudakan.
Pemimpin sejati tidak pernah dipusingkan dengan jumlah pengikutnya
yang kian surut, pemimpin sejati tidak pernah menumpahkan darah hanya
karena berebut pengikut. Pemimpin sejati adalah mereka, orang-orang
yang duduk damai dalam kesendiriannya disetiap jari sibuk berbuat dan
bertindak yang tiap langkah dan tindakannya selalu mengilhami orang
lain untuk selalu mencintai dan melayani sesama.
Kehidupan yang selalu dikelilingi pengikut banyak, berkelimpahan
materi, semua apa yang diucapkan seolah sabda yang mengikat, siapa
yang tak tergoda oleh itu semua? Tapi tidak bagi mereka yang telah
menemukan diri sejatinya. Baginya kepuasaan hidup yang dimilikinya
adalah ketika dia hidup mencintai dan melayani sesama sebagaimana yang
dilakukan baginda Nabi SAW.
Itulah pemimpin sejati tidak disibukkan dengan organisasi, tidak
disibukkan dengan jumlah pengikut namun disibukkan dengan langkah dan
tindakan mencintai dan melayani.

Tausiyah September 08:

Sebagai seorang muslim kita janganlah cepat bangga dengan prestasi amal yang telah dilakukan. Sikap yang sebaiknya dilakukan adalah takut dan khawatir amal kita tidak diterima oleh-Nya karena terlalu cinta dunia dan takut mati atau telah tercampurnya niatan dalam hati sehingga apa yang telah diazzamkan tidak sesuai dengan apa yang telah dilakukan dan hanya untuk dinilai oleh manusia lalu tanpa disadari dan disertai oleh bisikan-bisikan syaithon timbullah yang dinamakan ujub dalam jiwa kita dan terhapuslah segala amal yang lalu, naudzubillah maka berharaplah bahwa amal yang telah kita laksanakan dapat diterima dan di ridhoi oleh Allah SWT serta ingatlah kematian yang dengannya kita akan semakin memaknai kehidupan dengan lebih baik. Ingatlah bahwa kuantitas dan kualitas amal ibadah kita haruslah seimbang, karena amal yang kau tampakkan itu adalah baik namun apa yang tidak kau tampakkan itu adalah lebih baik. Beruntunglah orang-orang yang beriman yang mengerjakan kebajikan dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang sholeh.

Tausiyah Juli 08:

Allah telah menyampaikan dalam QS. Al Mulk:2 bahwa Allah menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian untuk melihat siapa yang terbaik amalannya. Dalam QS Al Insan:2 juga disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia untuk diuji dengan segala perintah dan laranganNya. Namun, Allah tidak membiarkan begitu saja makhlukNya hidup tanpa bekal. Allah mengkaruniakan pendengaran dan penglihatan untuk digunakan manusia menjalani hidupnya; menemukan petunjukNya; menemukan jalan dan pemecahan atas segala permasalahan; menemukan kunci dan penerang untuk lolos dalam ujian hidupnya.

Tausiyah Juni 08:

Jadikan pengalaman sebagai pembelajaran untuk perbaikan pada masa yang akan datang bukan sebagai penyesalan dan rasa kecewa serta dilupakan sehingga menghambat perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Segala yang telah terjadi dalam kehidupan kita walaupun banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan, yakinlah bahwa hal tersebut adalah yang terbaik untuk diri kita.

Tausiyah Mei 08:

”Begitu besar pengaruh orang yang ikhlas itu, sehingga dengan kekuatan niat ikhlasnya mampu menembus ruang dan waktu. Seperti halnya apapun yang dilakukan, diucapkan, dan diisyaratkan Rasulullah, mampu mempengaruhi kita semua walau beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu namun kita senantiasa patuh dan taat terhadap apa yang beliau sampaikan. Bahkan orang yang ikhlas bisa membuat iblis(syaitan) tidak bisa banyak berbuat dalam usahanya menggoda orang ikhlas tersebut. Ingatlah, apapun masalah kita janganlah hati kita sampai pada masalah itu, cukuplah hanya ikhtiardan pikiran saja yang sampai pada masalah tersebut, tapi hati hanya tertambat pada Allah SWT yang Maha Mengetahui akan masalah yang kita hadapi tersebut. Semoga Allah SWT membimbing kita pada jalan-Nya sehingga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.” (Daarut Tauhid Jakarta)

Tausiyah April 08:

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa dilanda kesusahan dalam suatu masalah, hendaklah dia mengucapkan Laa Haula wa laa quwwata illa billaahil’ aliyyil -‘azhiim’(Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang MahaTinggi lagi MahaAgung)” (HR.Baihaqi dan Ar Rabi’i).

Tausiyah Maret 08:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan; dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur dan di akhirat(nanti) ada adzab yang keras dan ampunan Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesengangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu untuk (mendapatkan) ampunan dari Rabmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah; diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang besar ” (QS. Al-Hadid:20-21)

Tausiyah Februari 08:

‘Kami merasa kehilangan tiga hal dan tidak melihatnya lagi, dan aku tidak melihatnya bertambah, melainkan semakin berkurang, yaitu: wajah yang baik dengan memelihara kehormatan; kata-kata yang baik disertai agama yang kuat; dan persaudaraan yang baik disertai dengan kesetiaan.” (Yahya bin Mu’adz Ar Razi)

TAusiyah Januari 08:

”Kaum muda membuat sejarah dengan hati mereka. Para cendikiawan membuat sejarah dengan akal pikiran mereka. Orang-orang arif bijaksana membuat sejarah dengan jiwa mereka. Apabila hati, akal, dan jiwa bersatu untuk membuat sejarah, pasti tidak ada lagi catatan kelam dan kelabu dalam perjalanan sejarah manusia. Sejarah umat manusia akan terang benderang, dan itulah penciptaan sejarah pertama kalinya, yang sinarnya tidak akan pernah pudar untuk selamanya.” (Mustafa as Siba’i)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siapa aja boleh komentar disini,

Terima kasih telah menggunakan bahasa yang santun .. ^_______^