Loading

Senin, 30 November 2009

Perjalanan panjang menuju berjilbab




Keinginan ku tuk berjilbab sudah ku niatkan sejak kelas 3 SMP, saat itu kulihat ada seorang anak perempuan yang berjilbab lewat depan kelasku tuk menuju masjid melaksanakan shalat. Kelasku memang kala itu berada disamping masjid sekolah.
Setiap kali ia selesai menunaikan shalatnya kulihat wajahnya lebih bercahaya dari sebelumnya.

Saat lulus ku utarakan keinginanku tuk berhijab, namun belum diijinkan oleh kedua orang tuaku yang memang mereka belum mengerti mengenai kewajiban seorang muslimah tuk berjilbab.

Waktu di SMA pun ku lebih dekat dengan kakak kelas yang berjilbab, mereka terlihat anggun, cantik, teduh, jelita, dan bersahaja. Keinginan ku tuk berjilbab tak padam bahkan bertambah membara. Tiap malam ku berdoa suatu saat nanti ku dapat berjilbab secara syar’i. Ku lukis wajah seorang muslimah yang berjilbab rapi dan manis di dalam buku harianku. Kurangkai harapan disamping gambar yang ku lukis itu. Harapan itu berupa do’a yang ku yakin kan didengar olehNya. Saat itu bahkan ku tak tahu seperti apa jilbab yang sesuai syari’ah namun entah mengapa aku menggambarnya sesuai dengan apa yang sekarang telah terjadi dalam hidupku.

Ku pendam keinginanku berjilbab yang semakin hari semakin terbayang dalam hidupku baik dalam kehidupan nyata bahkan dalam harap dan mimpi-mimpiku. Ku cemburu dengan teman-temanku yang satu persatu mereka segera berhijrah dan berhijab. Setiap kali itu pula batinku semakin bergetar, ingin ku sampaikan keinginan itu namun kelu bibir ini tuk berucap, kaku dan tertahan lidah tuk menyampaikan lisan.

Hampir tiga tahun lebih rasa itu menghantuiku. Tak ada dukungan yang didapat kecuali dari satu orang kakakku saja. Seakan harapan itu hanyalah sekedar angan belaka maka ku pun mengira bahwa ku hanya kan dapat berjilbab ketika aku sudah menikah dengan seseorang yang kan mendukungku penuh dalam menjalankan kewajiban seorang muslimah. Ku rajut harapan itu agar segera menjadi kenyataan dengan berharap waktu segera bergulir menuju saat yang diharapkan.

Detik demi detik terus bergulir hingga sempat terpikir olehku mengapa tak berhijab saat acara kelulusan SMAku saja, saat itu ku kira semua dapat terwujud, namun kenyataan berkata lain. Ku tetap belum dapat menjadikan harapan itu nyata.

Bergejolak hati dan pikiran tuk terus memiikirkan kapan salah satu mimpi itu kan terwujud. Saat menentukan pilihan belajar selanjutnya pun datang, namun seperti tlah diduga sebelumnya bahwa ku tak kan mampu menolak permintaan orangtuaku. Keinginanku tuk kuliah di luar kota tak sepenuhnya tak terwujud, akhirnya ku tetap kuliah di luar kota walaupun jaraknya tak terlalu jauh dan bukan kota tujuan keinginanku.
Walaupun akhirnya ku sangat mencintai kota itu karena segala hidayah itu turun disana.

Benarlah dalam Al Qur’an bahwa apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurutNya dan apa yang kita anggap tak baik belum tentu tak baik menurutNya. Terbuktilah sudah dalam kehidupanku, yang kan terus ku coba memahami ayat itu sepanjang usia hidupku di dunia.

Sejak awal memasuki dunia kuliahku sudah kurasakan cinta Ilahi.
Segala kemudahan ku dapatkan.
Ada rasa damai dihati, ketenangan dijiwa yang entah berasal dari mana rasa itu.
Anugerah Ilahi lah yang kurasakan.
Ku telah berada dalam naungan dan cintaNya.
Semua memang telah direncanakanNya dengan indah.
Namun jalan tuk menuju cahayaNya tidak lah semudah membalikkan telapak tangan.
Ada tangis, ada rasa tak mengerti dan ada rasa kecewa.
Penuh tanda Tanya dan seribu alasan tuk dapat memahaminya.

Akhirnya hidayah yang ditunggu pun datang.
Hidayah itu tak datang begitu saja, namun perlu kita jemput tuk mendapatkannya.
Diawali dengan ketulusan dan kebersihan hati dalam menerima kalam Ilahi.

Berikut ini adalah penggalan ceritaku hingga akhirnya hidayah itu pun datang:
Ku buka lagi lembaran demi lembaran diary ku…. Hingga ku temukan suatu tulisan yang berjudul Belajar “Nulis”
--------------------------------

24 Januari 2006

JILBAB PERTAMAKU
Asw.wr.wb…
Dy….! Deg! Tiba-tiba jantungku serasa berhenti berdetak, hatiku bergetar dy! sungguh!! waktu mba Ira menceritakan pengalamannya pertama kali berjilbab:

” Waktu itu aq bilang ama ibuku,..”bu, Ira mau pakai jilbab bu” , tapi ibuku melarang, katanya aq masih muda dan bla,bla, bla, ….”Ya udah aku bilang aja…Iya trus kalo aku mati besok gimana? Dan belum pake jilbab lagi..trus nanti kalo ditanyain kenapa belum pake jilbab,, trus jawabannya masih muda…Githu?? Apa mau Alloh menerima jawaban seperti itu?? Akhirnya ibuku pun mengizinkan aku berjilbab, dan aku memakai jilbabku kesekolah…….dst…..”

Itulah sepenggal cerita yang diceritakan mba Ira, tau ga dy bagian mana dalam cerita itu yang bikin aku …Deg!!
Itu loh waktu bilang “ klo aku mati besok gimana??”
Bener-bener bikin aku mikir beribu-ribu kali untuk secepatnya berjilbab…
Selang beberapa hari (entah berapa hari)menjelang bulan suci Ramadhan, aku dengar ada hari “Jilbab&koko day”, tiap hari jum’at dan hari selasa.

Aku dan Rizma udah janjian pake jilbab buat acara kajian muslimah yang bertepatan dengan “JK day” tapi kau kira rizma ga akan pake coz dia “Girly”banget…..tp dia juga sama dengan ku..

Rencananya pagi itu 1 Ramadhan 1424 H (Jum’at) aku pake jilbab ke kampus Aq lupa warna putih apa jilbab hitam yang rada transparan ya???....sampai musholla dan kegiatan berlangsung tidak ada yang memperhatikan penampilanku, semua biasa aja…sampai…..
Ada seorang kakak berjilbab yang datang dan langsung memberi akuj selamat “Istiqomah ya” itu dia…do’a,…….. do’a yang di ucapkannya …
Afwan (maaf gihtu) kalo aku lupa namanya tapi do’anya begitu tulus dan menyentuh hati. Walaupun ada beberapa kakak kelas juga yang meragukanku…(semoga bukan do’a yang tidak baik)

Setelah kejadian singkat hari itu aku pun langsung menetapkan hatiku untuk berjilbab. Aku belum memberitahu keluargaku…
Karena aku berpikir itu keputusan terbesar dalam hidupku dan itu adalah hakku…
Hak untuk berjilbab, itu yang aku tau saat itu. Walaupun sebenarnya jilbab itu wajib….
KEWAJIBAN dan bukan sekedar hak…
Jujur
Orang rumah kaget liat penampilanku…
Waktu berlalu sampai selesai lebaran tapi….dirumah aku ga berjilbab (astaqfirullah) keluargaku ternyata… MENENTANGku dan….
Alhamdulillah Alloh masih sayang padaku..aku diingatkanNya melalui mba Amel, ya dia adalah kakak KISI ku, katanya dirumah juga harus pake jilbab…waktu dia tanya aku pake apa enggak..aku jawabnya …kadang-kadang…
HAH kadang-kadang??dengan wajah anehnya dia mentausiyahiku…
Lalu setelah itu (afwan aku lupa waktunya) aku memang rada risih dirumah kalo ga pake jilbab, itulah mengapa aku melakukannya..

Alhamdulillah, sekali lagi Alloh memang Maha Penyayang, melalui mba Amel pula, aku kembali diingatkanNya.., Kata mba Amel, dlam berjilbab kita harus berjilbab sesuai syar’I begitu juga pakaian yang kita kenakan ini. Begitu katanya waktu itu :
-jangan menyerupai laki-laki
-memakai kerudung menutupi dada dan punggung
-memakai rok atau gami jauh lebih baik
-tidak memperlihatkan lekuk tubuh dan tidak ketat

Waktu itu aku menjawab pernyataannya, yang memang benar menurut Al Qur’an dan Hadis, begini jawabanku…
“Tapi mba, aku pake celana jeans tapi kalo bajuku panjang ampe paha, gimana?
Trus dia bilang
“itu sich sama ja, bentuk paha dan kaki kamu jelas-jelas kelihatan menunjukkan lekuk-lekuk tubuh”
Deg!! Yang kesekian kalinya.,,,,,,

Setelah itu tanpa sengaja aku lagi bantuin bazaar Nurani di Pergola, aku liat-liat rok!
Ya dy! Rok…aku jadi kepengen…yaudah aku beli ke mba ani…Ukuran XL, padahal aku kurus banget waktu itu but cukup tinggi coz yang laen kurang panjang alias ngatung kayak ikhwan bukan ngutang loh!!! Hehehehehe
Nyampe kosan ku penitiin kanan kiri pinggangnya coz kegedean…
Trus aku dalam seminggu baru punya 2 rok …yup! Cuma 2 dy!! Afwan maksudnya Alhamdulillah punya ganti yang satu warna krem, itu rok lamanya mba ika, tapi Alhamdulillah masih bagus dan layak pakai coz masa “MOS” juga pake rok itu.
Seiring dengan waktu aku pun mempunyai beberapa rok lainnya. Alhamdulillah sekarang dapat berjilbab dan berbusana muslimah sesuai syariah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siapa aja boleh komentar disini,

Terima kasih telah menggunakan bahasa yang santun .. ^_______^