Loading

Sabtu, 19 Desember 2009

Ketika Hati Berkata

Ya Rahman, Aku takut...
Aku takut bila tak mampu ‘mengakhiri’ perjalanan ini dengan baik.
Aku takut jika ternyata pada ‘akhirnya’ kelak, bagi-Mu segala langkah panjang ku tak ada nilainya.
Di saat Engkau yang ‘begitu baik’ nya dengan rapih menyimpan segala aib diri hingga detik ini, diantara sekian banyak ‘pandangan baik’ dari orang-orang akan diri ini.
Kini aku semakin ‘sadar’ bahwa munafik itu masalah hati,
sehingga manusia hanya bisa ‘menghakimi’ seseorang secara fisik, Tak lebih!

Ya Allah, ku mohon ‘genggam’ hati ku..
Setelah begitu jauh perjalanan ini, Ku hanya tak ingin salah dalam melangkah pada ‘ujungnya’.
Aku sadar kalau diriku memang pernah ‘terjatuh’ pada saat melangkah,
Namun sesaat itu pula diriku mampu untuk kembali berdiri, bahkan berlari
Meskipun sungguh tak mungkin hati dan jiwa ku ‘berdusta’ pada-Mu.
Karena Engkau tak pernah lengah disaat hamba-hamba mu lemah.

Ya Robb, kuatkan aku...
Semakin lelah jiwa ini jika harus terus menerus ‘berbeda’ dengan hati..
Sebelum semuanya ini berakhir terlambat, serta diri ini berada pada posisi dimana orang-orang yang ku cintai karena-Mu, Membenciku!
Aku mencintai keluarga ku, mencintai Ibuku, ayahku yang sudah lebih dulu menghadap-Mu, serta adik-adikku. Aku juga mencintai saudara-saudara ku didalam jama’ah ini yang berada dijalan-Mu,
tapi Ya Robb, tersadar ternyata diriku terlalu sombong!

Aahhh..., Hatiku tak lagi ‘santun’ pada jiwanya..
Sungguh tak ingin ia menjadi lebih keras dari sebuah batu, lalu membeku!
Aku tak ingin menyimpan banyak ‘penyesalan’ buat diriku kelak,
apalagi bagi orang-orang yang telah tulus mencintaiku karena-Mu.
Maafkan aku...

3 komentar:

  1. ada kisah seorang anak dengan bapaknya yang berjalan disepanjang deretan pepohonan,sang ayah pun memulai pembicaraan
    ayah; nak, apa pelajaran yang bisa diambil dari sebuah pohon
    anak:pohon itu sebagai sumber oksigen alami, pengendali banjir dan sebagai habitat sebagian hewan
    ayah:engaku benar nak,tapi aa yang lebih penting dari itu, engkau liat dimana pun pohon itu berada dalam keadaan bagaimanapun pohon itu berdiri dan di mana pun ia berada, pucuk pohon selalu menuju sinar matahari

    jadi, begitulah kira2 kita berada dalam masalah dan kondisi yang berbeda dengan kadar sesuai dengan kemampuan selalu ada keluh kesah padahal kita selalu dikaruniai segala nikmat yang kita butuhkan. Allah memberikan segala rahmatnya kepada siapapun tanpa memandang latar belakangnya. jadi kata lagu dmasiv syukuri apa yang ada hidup adalah anugrah, tatp jalani hidup ini,lakukanlah yang terbaik. masalah apapun sudah ada contohnya dalam alquran

    BalasHapus
  2. Ya Rahman, Aku takut...
    Aku takut bila tak mampu ‘mengakhiri’ perjalanan ini dengan baik.
    Aku takut jika ternyata pada ‘akhirnya’ kelak, bagi-Mu segala langkah panjang ku tak ada nilainya.
    Di saat Engkau yang ‘begitu baik’ nya dengan rapih menyimpan segala aib diri hingga detik ini, diantara sekian banyak ‘pandangan baik’ dari orang-orang akan diri ini.
    Kini aku semakin ‘sadar’ bahwa munafik itu masalah hati,
    sehingga manusia hanya bisa ‘menghakimi’ seseorang secara fisik, Tak lebih!

    BalasHapus

Siapa aja boleh komentar disini,

Terima kasih telah menggunakan bahasa yang santun .. ^_______^