Loading

Kamis, 20 Januari 2011

Pantulan Cermin Yang Sebenarnya



Cermin itu kali ini benar-benar tak berbingkai, melukaiku namun menyadarkanku dari lamunan panjangku. Cermin itu memantulkan diriku yang kadang tak ku sadari. Semua hal yang samar kini menjadi jelas.

Terima kasih ku ucapkan tuk cermin itu, semoga suatu saat ku dapat membingkainya hingga tak melukaiku. Cermin itu jernih dan terlalu indah. Ku bahkan merasa tak pantas bercermin padanya. Ku harap cermin itu tak hanya memantulkannya namun membantu tuk merubah pantulannya menjadi lebih baik lagi.

Masa bersamanya terlalu sulit tuk dilupakan, meski singkat namun berarti dan penuh makna, ku menyadari betapa kehilangan setelah merasa memiliki. Ku lihat pantulan diriku pada cermin itu dan pantaslah bila diri ini harus kehilangannya.

Betapa ku begitu tak peduli dengan lingkungan sekitarku, semakin ku tak ada yang memperhatikan, maka semakin aku tak memperhatikan. Kenapa selalu dan selalu seperti itu????? ku tak pernah menyadari bahwa perlakuan yang ku terima ternyata ku berikan kepada orang lain. Ku tak pernah menyadari bahwa sakit yang kurasakan ternyata dapat menyakiti orang lain. Ku tak pernah menyadari bahwa kekecewaanku mengecewakan orang lain.

Tak pernah terbesit sedikit pun dalam pikiranku dan hatiku, bahwa aku membalas perlakuan orang lain pada orang lain pula.

Jadi teringat kata-kata dalam sebuah buku yang entah buku apa dan siapa yang menulisnya.
"jika anak selalu disayangi, maka ia akan belajar menyayangi"
"jika anak selalu dipukuli, maka ia akan belajar memukul orang lain"
"jika anak selalu dihargai, maka ia akan belajar menghargai orang lain"
"jika anak selalu dibohongi, maka ia akan belajar berbohong"
dst.. (ntar dicari deh sambungannya Insyaalloh)

jika ditelaah kembali kata-kata diatas maka akan didapati bahwa setiap hal yang dilakukan akan berbalas kembali, selayaknya seorang anak kecil yang masih bersih seperti kertas putih, maka lingkungan terdekatnyalah yang akan mewarnainya.

Semoga bukanlah suatu kekecewaan dan keluh kesah semata yang ada dalam hati dan pikiran, melainkan juga sebuah rasa syukur dan motivasi tertinggi untuk menjadi lebih baik dan tak mengulangi kembali rasa yang telah didapat dengan melakukan hal tersebut pada orang lain.

Menuliskan kata hati semoga dapat terwujud di kemudian hari. :)

2 komentar:

  1. kata-kata adalah doa.. jadikan tiap kata adalah kata yang bermakna

    BalasHapus
  2. "jika anak selalu disayangi, maka ia akan belajar menyayangi"
    "jika anak selalu dipukuli, maka ia akan belajar memukul orang lain"
    "jika anak selalu dihargai, maka ia akan belajar menghargai orang lain"
    "jika anak selalu dibohongi, maka ia akan belajar berbohong"
    dst.. (ntar dicari deh sambungannya Insyaalloh)

    BalasHapus

Siapa aja boleh komentar disini,

Terima kasih telah menggunakan bahasa yang santun .. ^_______^