Loading

Kamis, 03 Mei 2012

Materi Training Yang Berulang dan Manager Yang Tidak Profesional

Training tahunan seharusnya dapat memotivasi karyawan menjadi lebih baik tiap tahunnya. Namanya juga training tahunan, berarti tiap tahun seharusnya pemberi materi training telah mempersiapkan diri untuk dapat memberikan pelatihan terbaiknya. Bukan hanya dari kesiapan fisik yang fit dalam menghadapi peserta training, tetapi juga mempersiapkan materi yang fresh tiap tahunnya.

Pergantian karyawan tiap tahun terjadi dengan sangat cepat, dan hanya tersisa beberapa saja karyawan lama yang mengikuti kembali training tahunan pada tahun berikutnya. Namun sepertinya karena hal inilah maka pemberi materi terkesan menyepelekan dan tidak menghargai karyawan yang telah beberapa kali mengikuti training tersebut.

Masih teringat betul tentang materi apa yang disampaikan beserta slide dan video yang ditayangkan, hampir tidak ada perubahan sedikit pun bahkan cara penyampaian dan bentuk interaksinya pun saja, pertanyaan yang dilontarkan kepada peserta training pun sama. Sebuah kekecewaanlah yang didapat dari karyawan lama, sehingga bukannya termotivasi namun malah merasa bosan dan jenuh jika harus kembali mengikuti training tersebut. Merasa dianggap tidak ada dan kesannya pemberi materi tersebut baru pertama kali menyampaikan. Sungguh tidak profesional dan tidak kreatif sekali. Menyedihkan, ketika seseorang dengan jabatan selevel manager dan gaji yang tidak sedikit serta bekerja diperusahaan yang jumlah karyawannya lebih dari 1000 orang, namun tidak menyontohkan sebuah totalitas dalam bekerja kepada perusahaan.

Program training tahunan bagi karyawan lama, kini bukanlah dijadikan sebagai acara untuk memotivasi diri, melainkan untuk bertemu dan bersilaturahim dengan karyawan lain dengan jabatan yang sama dari semua cabang dan sebagai acara ber-rekreasi semata, setelah jenuh bekerja di cabang masing-masing.

Kritikan dan saran masukan yang diberikan setiap tahunnya merasa tidak pernah didengarkan dan terkesan diabaikan, sehingga banyak yang memilih untuk diam, daripada ketika berbicara dan menyampaikan apa yang dikeluhkan malah dikurangi nilainya dan dianggap tidak menghargai perusahaan dan bahkan sampai di turunkan nilainya hingga menjadi C ketika manager lainnya memberikan nilai B, hanya karena memberi kritik dan masukan. Sungguh ironis sekali ketika kami sebagai bawahan dituntut untuk profesional dan bersikap dewasa atas sikap customer dan rekan kerja tetapi atasannya sendiri bersikap sangat tidak dewasa dalam menghadapi kritikan dari bawahannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siapa aja boleh komentar disini,

Terima kasih telah menggunakan bahasa yang santun .. ^_______^