Loading

Minggu, 14 Juni 2015

Kelahiran Anak Pertamaku

Alhamdulillah, segala puji bagiMu ya Robb, telah Engkau anugerahkan kepada kami seorang putri cantik di tengah keluarga kecil kami. Pada tanggal 9 Mei 2015 jam 23.35 dengan berat 3660 gram dan panjang 52cm lahir dengan proses operasi sesar. Setelah mencapai pembukaan 8 dan mules hebat akan melahirkan normal namun sang dede bayi masih tertidur manis di perut mamanya, padahal ketuban sudah pecah sejak jam 18.30, ditunggu hingga 4 jam dede bayi belum lahir juga hingga sang mama kehabisan tenaga, maka diambillah keputusan untuk operasi sesar.

Aku sudah pasrah ketika keputusan untuk sesar itu diambil, karena operasi sesar sama sekali tidak terpikirkan olehku dan suamiku, dengan kondisi dede bayi yang bagus dan sehat seharusnya memang aku bisa melahirkan secara normal, tapi takdir berkata lain. Pembukaan tidak juga maju dan itu mengkhawatirkan kondisi bayiku. Maka ku pasrahkan semua yang terbaik untuk kami.

Melahirkan operasi sesar menelan biaya yang cukup besar, untuk melahirkan di rumah sakit asri dengan dokter spesialis biayanya 21 juta lebih. Walaupun memang operasinya cukup baik, ditangani oleh 4 orang dokter, yaitu 2 orang spesialis kandungan, dokter spesialis anak, dan dokter spesialis anestesi, seorang bidan, dan 2 orang perawat ruang operasi. Totalnya ada 7 orang yang membantu persalinanku.

Ketika hendak dioperasi keadaanku masih mules hebat dan lemas kehabisan tenaga, ditambah ruangan operasi yang dingin sudah membuatku menggigil, ternyata masih harus ditambah lagi dengan disiramnya air es di tulang punggung bawahku untuk disuntik obat bius lokal dari perut hingga kaki. Badanku menggigil gemetaran dan gigiku bergeretak menahan dingin yang tak tertahankan, walaupun sudah dipakaikan pakaian penghangat badan berlapis khusus ruang operasi.

Selesai operasi ternyata perawat tidak memberitahu suami dan keluargaku bahwa aku sudah dipindahkan ke ruang perawatan, mereka hanya tahu bahwa bayiku sudah lahir dan dibawa keruang bayi, mereka pun hanya mengetahui kondisi bayiku tanpa tahu kondisiku pasca operasi. Hingga jam 10 pagi, keluarga baru diberi tahu bahwa aku sudah diruang rawat sejak jam 3 pagi. Perawat sudah ku panggil melalui alat pemanggil karena aku kehausan sejak masuk ruang perawatan tapi baru jam 6 pagi ada perawat jaga pagi yang datang dan membantuku untuk minum. Perawat dan bidan ruang bersalinnya tidak memberitahu keluargaku bahwa aku sudah dipindahkan, seharusnya kan mereka memberitahu keluargaku.

Sudah sejak hamil 4 bulan aku rutin kontrol di rumkit asri ini hingga melahirkan dan imunisasi anakku pun disini. Dari keseluruhan tentu ada kelebihan dan kekurangannya dari sebuah rumah sakit. Ok untuk yang jago ambil darah saya pastikan hanya pegawai laboratorium, karena selain cepat juga tanpa rasa sakit. Untuk yang jago pasang infus hanya perawat UGD, karena walaupun pas ditusuk jarumnya berdarah, namun tidak meninggalkan sakit yang terlalu sakit. Kekurangannya: satu bidan menusuk lenganku hingga biru karena tidak bisa mengambil sampel darahku untuk dibawa ke lab. Satu perawat ruang rawat tidak bisa menginfus hingga pembuluh darah punggung tanganku pecah. Hingga aku menolak untuk di infus ulang dan meminta obat yang diminum saja. Lalu Perawat dan bidan serta penjaga ruang bersalin tidak memberitahu bahwa aku selesai operasi sudah dipindah ke ruang rawat. Terus ketika pulang bagian pembayaran tidak memberitahu bahwa harus kembali lagi ke lantai ruang rawat untuk mengambil obat yang harus dibawa pulang, hingga aku baru tahu ketika sudah sampai dirumah dan ditelpon oleh pihak rumah sakit bahwa ada obat yang belum diambil.

Yang membuat agak nyaman disini adalah para dokternya, Alhamdulillah semuanya ramah dan menenangkan pasien. Tidak ada istilah dokter yang menakut-nakuti pasien dengan pernyataan yang asal bicara.

Dirawat dirumah sakit ternyata membuat pasien dan penunggu pasien sama-sama sakit. Setelah dirawat 4 hari dirumkit dan pulang, kita sama-sama masuk angin. Suamiku masuk angin, aku juga mual, muntah dan diare. Aku susah makan dan susah tidur ditambah dengan nyeri pasca operasi. Semua memang sebuah tahapan kehidupan yang harus dilalui, ada suka dan duka dalam kehidupan kita semua.

Untuk pasangan yang hendak menikah, sudah menikah dan akan memiliki anak, ada baiknya menabung untuk pasca pernikahan yaitu untuk biaya kehamilan dan persalinan serta perawatan bayi dan pertumbuhan anak. Sangat banyak kebutuhan yang diperlukan pada masa ini. Untuk kehamilan dan persalinan anak pertamaku memerlukan biaya kurang lebih hingga 30 juta, belum lagi untuk kebutuhan bayi dan lainnya. Walaupun selalu yakin bahwa pasti ada rejekinya dari Alloh tapi tetap harus ada usahanya, tak bosan-bosan aku mengingatkan semuanya, semoga bermanfaat sharing aku ini. Bukan untuk mengeluh namun untuk pembelajaran kedepannya. Untuk tahapan kehidupan selanjutnya.

Ya Alloh lancarkanlah rejeki para Ayah dan Bunda di seluruh negeri dalam membesarkan anak-anaknya dengan rejekiMu yang Halal dan Thoyiban. Aamiiinnn


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siapa aja boleh komentar disini,

Terima kasih telah menggunakan bahasa yang santun .. ^_______^